TUGAS ILMU SOSIAL DASAR 6
Nama: Muhammad Faisal Ramadhan
Kelas: 1TA05
NPM: 14315567
Ilmu Sosial Dasar (Softskill)
Semester 1
TUGAS 6
Masyarakat
Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang
hidup bersama, saling berhubungan dan mempengaruhi, saling terikat satu sama
lain sehingga melahirkan kebudayaan yang sama. Kali ini saya akan membahas apa
sih yang dimaksud Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan. Kedua aspek ini
memiliki keterkaitan satu sama lain dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Saya disini akan mencoba menjabarkan Pengertian dan Keterkaitan
tersebut.
Pengertian Masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society)
adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi
terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang
berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar
dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat
adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat
adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain).
Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup
bersama dalam satu komunitas yang teratur.
I.2 Syarat-Syarat
Menjadi Masyarakat
1.
Mematuhi aturan yang dibuat oleh negara
2.
Mematuhi hak dan kewajiban sebagai masyarakat
3.
Melindungi negara ditempat masyarakat tersebut bermukim
4.
Menciptakan lingkungan yang tentram dan damai
Pengertian Masyarakat Perkotaan dan Ciri-Cirinya
Masyarakat perkotaan sering disebut urban
community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya
serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Ada
beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
Kehidupan keagamaan berkurang bila
dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
Orang kota pada umumnya dapat mengurus
dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini
adalah manusia perorangan atau individu. Di kota-kota kehidupan keluarga sering
sukar untuk disatukan, sebab perbedaan kepentingan paham politik, perbedaan
agama dan sebagainya.
Jalan pikiran rasional yang pada umumnya
dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi
lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
Pembagian kerja di antra warga-warga kota
juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan
pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.
Interaksi yang terjai lebih banyak terjadi
berdasarkan pada factor kepentingan daripada faktor pribadi. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat
penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
Perubahan-perubahan sosial tampak dengan
nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari
luar.
2
Tipe Masyarakat
Masyarakat mempunyai tipe seperti berikut :
Masyarakat kecil yang belum kompleks, yaitu
masyarakat yang belum mengenal pembagian kerja, struktur, dan aspek-aspeknya
masih dapat dipelajarisebagai satu kesatuan.
Masyarakat yang sudah kompleks, yaitu
masyarakat yang sudah jauh menjalankan spesialisasi dalam segala bidang, karena
ilmu pengetahuan sudah maju, teknologi maju, dan sudah mengenal tulisan.
I.5
Perbedaan Antara Desa dan Kota
1.
Jumlah dan kepadatan penduduk.
2.
Stratifikasi sosial.
3. Pola
interaksi sosial.
4.
Lingkungan hidup.
5. Corak
kehidupan sosial.
6.
Solidaritas sosial.
7. Mata
pencaharian.
8.
Mobilitas sosial .
Ada
beberapa ciri yang dapat digunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara
desa dan kota. Antara lain sebagai berikut:
Hubungan Desa dan Kota
a.
Masyarakat tersebut bukanlah 2 komunitas yg berbeda.
b.
Bersifat ketergantungan.
c. Kota
tergantung desa dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan.
d. Desa
juga merupakan tenaga kasar pada jenis pekerjaan tertentu.
e.
Sebaliknya, kota menghasilkan barang dan jasa yg dibutuhkan desa.
f. Peningkatan penduduk tanpa diimbangi
perluasan kesempatan kerja berakibat kepadatan.
g.
Mereka kelompok para penganggur di desa.
Aspek Positif dan Negatif
>
Konflik ( Pertengkaran)
Ramalan orang kota bahwa masyarakat
pedesaan adalah masyarakat yang tenang dan harmonis itu memang tidak sesuai
dengan kenyataan sebab yang benar dalam masyarakat pedesaan adalah penuh
masalah dan banyak ketegangan. Karena setiap hari mereka yang selalu berdekatan
dengan orang-orang tetangganya secara terus-menerus dan hal ini menyebabkan
kesempatan untuk bertengkar amat banyak sehingga kemungkinan terjadi
peristiwa-peristiwa peledakan dari ketegangan amat banyak dan sering terjadi.
Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi
biasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke
luar rumah tangga. Sedang sumber banyak pertengkaran itu rupa-rupanya berkisar
pada masalah kedudukan dan gengsi, perkawinan, dan sebagainya.
>
Kontraversi (pertentangan)
Pertentangan ini bisa disebabkan oleh
perubahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat), psikologi atau dalam
hubungannya dengan guna-guna (black magic). Para ahli hukum adat biasanya
meninjau masalah kontraversi (pertentangan) ini dari sudut kebiasaan
masyarakat.
>
Kompetisi (Persiapan)
Sesuai dengan kodratnya masyarakat pedesaan
adalah manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat sebagai manusia biasanya yang
antara lain mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena
itu maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa negatif. Positif bila
persaingan wujudnya saling meningkatkan usaha untuk meningkatkan prestasi dan
produksi atau output (hasil). Sebaliknya yang negatif bila persaingan ini hanya
berhenti pada sifat iri, yang tidak mau berusaha sehingga kadang-kadang hanya
melancarkan fitnah-fitnah saja, yang hal ini kurang ada manfaatnya sebaliknya
menambah ketegangan dalam masyarakat.
>
Kegiatan pada Masyarakat Pedesaan
Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian
yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain.
Jadi jelas masyarakat pedesaan bukanlah masyarakat yang senang diam-diam tanpa
aktivitas, tanpa adanya suatu kegiatan tetapi kenyataannya adalah sebaliknya.
Jadi apabila orang berpendapat bahwa orang desa didorong untuk bekerja lebih
keras, maka hal ini tidaklah mendapat sambutan yang sangat dari para ahli.
Karena pada umumnya masyarakat sudah bekerja keras.
5
Unsur Lingkungan Perkotaan
Perkembangan kota merupakan manifestasi
dari pola kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik. Secara umum dapat
dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan, seyogyanya mengandung 5 unsur yang
meliputi :
Wisma: unsur ini merupakan bagian ruang
kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya,
serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatansosial dalam keluarga.
Karya : Unsur ini merupakan syarat yang
utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsur ini merupakan jaminan bagi
kehidupan bermasyarakat ; misalnya bagi kehidupan perindustrian, perdagangan,
pelabuhan, terminal,serta kegiatan kerja lainnya.
Marga : Unsur ini merupakan ruang perkotaan
yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan
tempat lainnya di dalam kota (hubungan internal), serta hubugan antara kota itu
dengan kota-kota atau daerah lainnya (hubungan eksternal).
Suka : Unsur ini merupakan bagian dari
ruang perkantoran untuk memnuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas-fasilitas
hiburan, rekreasi, petamanan, kebudayaan, dan kesenian.
Penyempurnaan : Unsur ini merupakan bagian
yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam ke
empat unsur di atas, termasuk fasilitas keagamaan, perkuburan kota, fasilitas
pendidikan dan kesehatan, jaringan utilitas umum.
3
Fungsi External Kota
Fungsi eksternal dari kota yakni seberapa
jauh fungsi dan peran kota tersebut dalam kerangka wilayah dan daerah-daerah
yang dilingkupi dan melingkupinya, baik secara regional maupun nasional.
Pengertian Desa
Desa merupakan perwujudan atau kesatuan
geografis, sosial, ekonomi, politik dan kulural yang terdapat di suatu daerah
dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbale balik dengan daerah lain.
Pola keruangan desa bersifat agraris yang
sebagian atau seluruhnya terisolasi dari kota. Tempat kediaman penduduk
mencerminkan tingkat penyesuaian penduduk terhadap lingkungan alam, seperti
iklim, tanah, topografi, tata air, sumber alam, dan lain-lain. Tingkat
penyesuaian penduduk desa terjhadap lingkungan alam bergantung faktor ekonomi,
social, pendidikan dan kebudayaan.
Ciri-Ciri, Unsur-Unsur, dan Fungsi Dari Desa
Ciri-ciri
masyarakat desa antara lain sebagai berikut:
Sistem kehidupan umumnya bersifat kelompok
dengan dasar kekelurgaan (paguyuban).
Masyarakat bersifat homogeny seperti dalam
hal mata pencahariaan, agama dan adat istiadat.
Diantara warga desa mempunyai hubungan yang
lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar batas
wilayahnya.
Mata pencahariaan utama para penduduk
biasanya bertani.
Faktor geografis sangat berpengaruh
terhadapa corak kehidupan masyarakat.
Jarak antara tempat bekerja tidak terlalu
jauh dari tempat tinggal.
Unsur-unsur
Desa
– Daerah
–
Penduduk
– Corak
kehidupan
– Unsur
gotong royong
Fungsi
Desa
fungsi desa dalam hubungannya dengan kota
sebagai lumbung bahan mentah atau tenaga kerja
dari segi kegiatan, kerja desa dapat
merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industri, desa nelayan.
3 Macam-Macam Pekerjaan Gotong Royong
Gotong royong merupakan suatu istilah asli
Indonesia yang berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang
didambakan. Bersama-sama dengan musyawarah, pantun, Pancasila, hukum adat,
ketuhanan, dan kekeluargaan, gotong royong menjadi dasar Filsafat Indonesia.
Contohnya seperti :
1.
Membersihkan lingkungan bersama
2.
Adanya sistem ronda untuk menjaga lingkungan
3.
Saling membantu sesama warga
4. Bahu
membahu dalam pembangunan desa
4
Sifat, Hakikat, dan Gejala-Gejala Masyarakat Pedesaan
Masyarakat desa dinilai oleh orang kota
sebagai masyarakat damai, harmonis, adem ayem dan tenang.
Memiliki
sifat :
– petani
tidak kolot, tidak bodoh, tidak malas
– sifat
hidup penduduk desa rata-rata luas sawah kurang lebih 0,5 ha
Gejala
Mayarakat Pedesaan
Di dalam
masyarakat pedesaan kita ini mengenal bermacam-macam gejala, yang menyebabkan
di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan-ketegangan. Gejala-gejala
sosial tersebut antara lain:
a.
Konflik (pertengkaran), pertengkaran yang terjadi di sini biasanya terjadi
karena masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke luar rumah
tangga.
b.
Kontraversi (pertentangan), petentangan ini sering terjadi diakibatkan
perubahan kebudayaan, psikologi ata dalam hubungannya dengan guna-guna (black
magic).
c.
Kompetisi (persaingan), persaingan di sini sering terjadi dalam berbagai hal,
terutama dalam bekerja.
d.
Kegiatan pada masyarakat pedesaan
5
Sistem Budaya Petani Indonesia
Sejarah perjuangan hidup umat manusia hanya
akan bermuara pada dua latar belakangbudaya, budaya petani (bertani, berternak
dan menangkap ikan sebagai nelayan) dan budayapedagang. Indonesia, secara sadar
mentransformasi budaya petani ke dalam budaya industri. Dan budaya itu pula
yang menjiwai budaya industrinya. Apa dan bagaimana “budaya petani” dan “budaya
pedagang” dapat tergambar dalam kisah sederhana.
Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
Kehidupaan masyarakat desa berbeda dengan
masyarakat kota. Perbedaan yang paling mendasar adalah keadaan lingkungan, yang
mengakibatkan dampak terhadap personalitas dan segi-segi kehidupan. Kesan
masyarakat kota terhadap masyarakat desa adalah bodoh, lambat dalam berpikir
dan bertindak, serta mudah tertipu dsb. Kesan seperti ini karena masyarakat
kota hanya menilai sepintas saja, tidak tahu, dan kurang banyak pengalaman.
Untuk memahami masyarakata pedesaan dan
perkotaan tidak mendefinisikan secara universal dan obyektif. Tetapi harus
berpatokan pada ciri-ciri masyarakat. Ciri-ciri itu ialah adanya sejumlah orang,
tingal dalam suatu daerah tertentu, ikatan atas dasar unsur-unsur sebelumnya,
rasa solidaritas, sadar akan adanya interdepensi, adanya norma-norma dan
kebudayaan.
Masyarakat pedesaan ditentukan oleh bentuk
fisik dan sosialnya, seperti ada kolektifitas, petani iduvidu, tuan tanah,
buruh tani, nelayan dsb.
Masyarakat pedesaan maupun masyarakat
perkotaan masing-masing dapat diperlakukan sebagai sistem jaringan hubungan
yang kekal dan penting, serta dapat pula dibedakan masyarakat yang bersangkutan
dengan masyarakat lain. Jadi perbedaan atau ciri-ciri kedua masyarakat tersebut
dapat ditelusuri dalam hal lingkungan umumnya dan orientasi terhadap alam,
pekerjaan, ukuran komunitas, kepadatan penduduk, homogenitas-heterogenotas,
perbedaan sosisal, mobilitas sosial, interaksi sosial, pengendalian sosial,
pola kepemimpinan, ukuran kehidupan, solidaritas sosial, dan nilai atau sistem
lainnya.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar